Omnis Res Est Omnia

Every thing is Everything


Sekitar 5500 tahun yang lalu, belasan kota disepanjang sungai Efrat menyatu ke dalam jaringan tunggal yang disebut Sumeria. Disinilah ditemukan aksara, roda, gerobak, peroda tembikar, dan system bilangan awal. Lalu suku Akkadian, orang-orang yang lebih kasar dari wilayah hulu, menaklukan Sumeria. Pemimpin mereka, Sargon, adalah penakluk pertama yang disebut namanya dalam sejarah, sosok yang kejam dalam segala hal dan seorang lelaki yang menempa dirinya sendiri, karena dia berawal sebagai pria lemah dan tak dikenal, tetapi meninggalkancattan tentang perbuatannya dalam bentuk dokumen tanah liat yang dicap dengan tulisan kuno berbentuk baji, yang pada dasarnya berkata “Yang satu ini bangkit dan aku memukulnya; yang itu bangkit dan aku memukulnya.”




Lima Oktober 94 tahun silam, kongres Boedi Oetomo (BO) tidak banyak berarti tanpa 1200  orang yang menyatakan diri sebagai anggota dari berbagai penjuru Jawa. Berkat iuran anggota dari daerah, BO bisa beroperasi. Sampai akhirnya iuran itu tak sederas pada mulanya, BO menyerahkan kebebasan pada pengurus di daerah. Dalam kongres tadi, kemajuan berpikir Tjipto Mangoenkoesoemo lahir mendahului zamannya. Ia mengharap BO menjadi partai politik berdasarkan ‘persaudaraan nasional tanpa pandang bangsa, jenis kelamin, atau kepercayaan’.[[1]] Pemikiran ini kelak menjadi milik banyak pemuda modern. Ada dua pelajaran berharga dari BO, pentingnya daerah dan pemikiran radikal kaum muda.

Tulisan ini terlalu kerdil untuk menjelaskan hal-hal besar. Tapi biar saja, biar dunia tahu sekerdil ini saya.



        Sejak kecil, kita sudah menyerap dogma agama. Tuhan itu bernama. Kita diajari cara menyembahNya. Kita dperkenalkan ada sederet macam agama yang diakui di Indonesia. Dalam isi dogma itu, kisah surga dan neraka tak pernah alpa. Orang yang percaya pada Tuhan akan diselamatkan dari siksa neraka dan masuk ke dalam surga. Ketentuan surga atau neraka dinilai dari raport amal yang dikerjakan oleh Malaikat. Bagi saya ketika itu, surga dan neraka adalah pembeda yang paling jelas antara yang benar dan yang salah. Tapi lantas dengan tubuh yang masih mungil, saya bertanya pada Ibu, kalau surga dan neraka masih dibuktikan di akhirat kelak, bagaimana kalau agama yang kita peluk ini salah? Dalam kondisi kami misal, bagaimana kalau  Islam ternyata tidak mengantarkan kita pada surga? Ibu pun menjawab dengan bijak, 'itu mengapa kita perlu iman'.

Hospes Libro