Omnis Res Est Omnia

Every thing is Everything


Aku selamanya menemui senja dan tak pernah bertatap muka dengan fajar. Aku senantiasa dengan deburan ombak dan kamu diselimuti kabut. Di antara kita terbujur rasi bintang yang membentuk anak panah. Rumpun bintang itu bukan menggantung di langit, melainkan melayang di atas jalanan kota. Ujung anak panah itu mengarah pada kamu berada, di kaki sebuah gunung perkasa.

Suatu saat kita tak sengaja bertemu di tengah kota yang langit-langitnya serupa aurora. Kita tak sengaja duduk berdua di bawah kanopi. Wajahku sesendu senja dan senyummu menyimpan kerling fajar. Bulan terasa sangat dekat dengan bumi. Kita mengunjungi sebuah menara kunang-kunang. Kunang-kunang muda berwarna kehijauan dan yang tua kuning menyala. Sehari semalam kita bersama menatap kunang-kunang melayang di atas kepala lalu jelang fajar kelompok kunang-kunang itu jatuh satu per satu dan tak pernah bangkit lagi.


Bersambung…
Dan semua yang tampak dari manusia merupakan kebencian abadi, tapi cinta telah menerangi hati setiap insan yang mau berpaling menghadap sang cinta dengan kemurnian jiwa yang telah tertanam sebagaimana kesucian bayi ketika lepas dari surgamu.”


Syed Omir, seorang tetua kabilah kaya raya dengan segala kemuliaan dunia terlimpah kepadanya. Seorang sholih lagi memiliki pendamping yang sholihah, tidak satupun kekurangan dimiliki oleh orang ini. Hidup sebagai petinggi di kabilah besar lagi mulia. Setiap musafir padang pasir yang tersesat mendengar namanya bagaikan menemukan Syams  yang menghangatkan lagi menenangkan. Seorang yang kelaparan bila datang ke istananya pastilah ia pulang dengan membawa berkarung-karung makanan. Dia selalu membukakan pintunya untuk setiap anak yatim dan janda yang kedinginan, menyediakan selimut, sebagaimana dia menyediakannya untuk istrinya.
Setiap malam dia mengabaikan kehangatan selimut selagi menerjang dinginnya air malam hanya untuk mengambil air wudhu. Ya, selain dermawan dia juga merupakan seorang abit yang rajin mengerjakan qiyamul lail . Setiap malam dia menangis dalam sujud sucinya menghadap Sang Cinta, mengharap di hadirkan seorang keturunan yang kelak akan melanjutkan namanya di dunia ini. Ya, laki laki ini sudah mulai rentan terhadap kehidupan dunia, sendi-sendi nya sudah mulai menua, rambutnya sudah mulai beruban, tapi dari pernikahannya dengan istrinya dia belum juga dikarunia seorang keturunan. Setiap kali dia beribadah, setiap kali dia berderma, hanya satu yang dia harapkan sebagai imbalan, bukannya gunung emas penuh permata yang dia harapkan, karena dia telah memilikinya. Hanya seorang putra yang memegang namanyalah yang diharapkan melibihi semua gemerlap dunia yang telah ada dalam genggamannya.

Hospes Libro